JEKA24.COM | SUMATERA– 224 Km bukanlah sekadar angka di atas cyclocomputer. Bagi P.O.C Cycling Club (Polygon Owners Club). Angka tersebut adalah sebuah panggilan jiwa untuk menantang batas kemampuan diri.
Mengambil tema “Tour de Kerinci”, kayuhan pedal dimulai dari Bangko menuju titik akhir di kaki sang perkasa, Gunung Kerinci, Kayu Aro.
Perjalanan epik ini tidak berjalan sendiri. Dukungan penuh mengalir dari Kasat Lantas Polres Merangin, AKP Iwan Wahyudi, yang tidak hanya mengawal tetapi juga ikut melebur di dalam peloton, serta energi tambahan dari Cafe Route 88 dan pengamanan jalur oleh Satpol-PP Provinsi Jambi.
The Peloton: 15 Ksatria Jalanan
Di balik setiap kilometer yang terlewati, ada kerja sama tim, tawa, dan keringat dari 15 pesepeda yang menolak untuk menyerah:
Skuad Inti P.O.C & Rekan: Masjaya Putra, Irsan, Adit Java, Adit Trek, Budi Setiawan, Nendy, Yuda, Adi, Ferry, Aanri Atama, Eko, Diki.
The Power Couple: Nicko beserta sang istri tercinta, Mimy, yang setia memberi warna di sepanjang jalur.
Local Hero: Yocky, atlet sepeda kebanggaan Sungai Penuh yang menjadi pemandu ritme peloton.
The Leader: AKP Iwan Wahyudi, Kasat Lantas Polres Merangin yang membuktikan bahwa seragam tak menghalangi kecintaan pada ketahanan fisik.

Setiap tur sepeda punya cerita “paling mengerikan”-nya sendiri, dan bagi Tour de Kerinci, cerita itu bernama Muara Hemat.
Baru saja peloton menyesuaikan ritme, mereka langsung disambut oleh dinding vertikal sepanjang 12 kilometer.
Gradiennya tidak main-main—menyentuh angka 19% di beberapa titik paling curam. Di sini, rasio gigi sepeda dipaksa bekerja maksimal, berbanding lurus dengan detak jantung yang berdegup kencang.
Siksaan tidak berhenti pada elevasi. Matahari siang itu seolah berada tepat di atas kepala, memancarkan panas menyengat yang membakar aspal dan menguras habis cairan tubuh.
“Hancur dan putus asa.” Kata-kata itu sempat terlintas di benak beberapa rider. Kaki yang mulai kram, napas yang memburu, dan bayangan garis finish yang terasa masih sangat jauh sempat menggoyang mental peloton.
Namun, di sinilah esensi dari P.O.C Cycling Club diuji. Lewat saling meneriakkan kata penyemangat, berbagi sisa air di bidon, dan fokus pada satu kayuhan demi satu kayuhan, siksaan setinggi 19% itu akhirnya berhasil ditundukkan. Mereka menolak untuk dievakuasi oleh mobil pengawal.
Sungai Penuh: Oase di Tengah Lelah
Setelah melewati ujian mental di Muara Hemat, peloton akhirnya memasuki Kota Sungai Penuh. Begitu roda sepeda menyentuh batas kota, atmosfer langsung berubah total. Udara yang bersih, sejuk, dan pemandangan kota yang asri seolah menjadi obat penawar instan bagi otot-otot yang menegang.
Dipandu oleh Yocky, peloton menyempatkan diri mengitari kota, menikmati keramahan lokal dan kesejukan angin pegunungan. Sungai Penuh menjadi oase penting bagi para rider untuk mengisi ulang energi dan mengembalikan senyum yang sempat hilang di Muara Hemat.
Menuju Atap Sumatra: 30 KM yang Tak Berujung
Namun, Tour de Kerinci belum usai. Tantangan terakhir justru merupakan ujian ketahanan jangka panjang (endurance): tanjakan panjang menuju Kabupaten Kayu Aro.
Jalur ini menuntut konsistensi. Jaraknya tidak tanggung-tanggung, hampir 30 kilometer menanjak tanpa putus menuju kaki Gunung Kerinci. Jalur yang panjang ini menguras sisa-sisa tenaga yang dikumpulkan dari Sungai Penuh. Setiap kelokan menyajikan tantangan baru, memaksa para pesepeda menjaga ritme kayuhan (cadence) agar tidak tumbang sebelum puncak.
Kayu Aro: Tempat Lelah Menjadi Lilin yang Padam

Ketika batas vegetasi mulai berubah dan hamparan hijau sejauh mata memandang menyambut peloton, mereka tahu mereka telah sampai. Kayu Aro. Segala rasa sakit di Muara Hemat, sengatan matahari, dan keputusasaan sepanjang 224 kilometer menguap begitu saja saat peloton disuguhi kemegahan Gunung Kerinci yang berdiri kokoh berlatar belakang langit biru.
Di bawahnya, hamparan perkebunan teh tertua dan tertinggi kedua di dunia membentang laksana karpet hijau yang tak berujung. Cuaca dingin yang menusuk tulang dan udara segar khas pegunungan langsung menyelimuti tubuh para pesepeda. Di titik inilah, kepuasan tertinggi seorang cyclist tercapai. Rasa lelah, letih, dan hancur seketika sirna, digantikan oleh rasa bangga yang luar biasa.
Tour de Kerinci telah ditaklukkan. P.O.C Cycling Club sekali lagi membuktikan bahwa dengan kebersamaan, tidak ada tanjakan yang terlalu tinggi untuk didaki.



































Discussion about this post